Freud VS Heisenberg
Freud VS Heisenberg
Nama Sigmund Freud tidak asing lagi bagi para psikolog. Pendiri paham psikoanalisis, mahaguru psikiatri dan terkenal dengan analisis 'bawah sadarnya'. Freud menghabiskan waktu bertahun-tahun di Viena untuk mempelajari ilmu kedokteran, terutama jaringan saraf. Hal yang menggeser minatnya ke bidang psikologi analisis, melalui pendekatan biologis. Jenius psikologi yang suka berbicara tentang 'kesadaran' dan 'sex', mendasari analisisnya bahwa manusia adalah organisme kompleks yang dapat dipelajari dengan pendekatan 'mesin biologis'. Kesadaran adalah perintah otak dan sex adalah 'ulah' libido. Jika manusia dikondisikan dalam kedaan tertentu, Freud dapat menggunakan analisis 'mesin' manusia untuk mengetahui perilaku selanjutnya. Teorinya cukup ampuh menyembuhkan 'pasien-pasien jiwa' pada waktu itu. Mirip dengan fisika klasik, seperti kata Laplace, ilmuwan penyempurna mekanika Newtonian: 'Beri aku keadaan kini dan aku akan menentukan apa yang terjadi kelak.'
Gagasan Freud menjadi revolusi psikologi pada masa itu. Tahun 1909 para pendukung psikoanalisis berkumpul dan merayakan datangnya pencerahan baru, suatu kemajuan dalam usaha memahami manusia. Dunia fisika tidak terusik, tidak ada yang salah dengan jenius itu. Mereka lebih sibuk memikirkan teori kuantum, suatu revolusi baru dalam dunia fisika. Revolusi yang dimulai oleh teori relativitas Einstein dan kemudian dibangun secara ramai-ramai oleh para jenius fisika.
Diantara jenius itu, terdapat Werner Heisenberg. Fisikawan teoritis dari Jerman yang suka memanjat gunung. Saat ia mendaftar ke Universitas Berlin sebagai mahasiswa, ada dua masalah yang mengusik pikirannya: Udara kota yang kotor dan teori deterministik atom Bohr. Yang pertama membuat badan demam, yang kedua kepala pusing! Niels Bohr yang dijuluki 'orang besar dari Denmark' mengajukan suatu teori bahwa elektron mengelilingi inti dalam orbit-orbit tertentu. 'Beri saya spektrum absorbsi dan elektron itu akan saya temukan'. Teori yang pasti membuat Freud tertawa penuh kemenangan. Dunia subatom adalah deterministik! Alam semesta dapat dipastikan.
Bencana datang ketika Heisenberg mendaftar sebagai mahasiswa bimbingan Bohr. Saat itu usianya baru duapuluh tahun dan dengan lancang mengajukan pernyataan kepada jenius Denmark dalam suatu kuliah yang mempersoalkan bahwa, karena elektron itu tidak akan pernah dapat dilihat oleh manusia maka kepastian dari keadaan elektron tersebut (posisi dan momentumnya) tidak akan pernah dapat dipastikan. Suatu pertanyaan yang membuat gurunya 'kebakaran jenggot'! Seusai kuliah, Bohr mengajak Heisenberg jalan-jalan, berdiskusi mengenai fisika dan melihat pemandangan alam Jerman. Bohr langsung sadar: anak muda ini bukan orang sembarangan!
Jenius muda beraksi. Dalam usianya yang baru 22 tahun, Max Born, fisikawan teoritis ternama mengangkat Heisenberg sebagai Dosen di Gottingen. Tidak lama kemudian Bohr mengajaknya ke Copenhagen. Copenhagen adalah salah satu tempat pengembangan utama fisika teoritis pada masa itu. Heisenberg merumuskan sebuah teori yang membawa dampak filosofis dan fundamental dalam dunia sains: Prinsip ketidakpastian! Jangan harap bisa memastikan dimana elektron berada karena kita tidak seluruhnya tahu masa kini! Kalau Anda bisa mencari informasi keberadaan elektron (posisi) dengan teliti sekali, maka Anda akan kehilangan kepastian mengenai momentumnya, yang artinya sulit menentukan dimana elektron itu berada pada waktu berikutnya. Sebaliknya, jika Anda mengukur momentumnya dengan teliti sekali maka anda kehilangan kepastian mengenai keberadaan elektron. Prinsip ini bukan merupakan akibat dari keterbatasan ketelitian instrumen manusia, akan tetapi merupakan sifat yang inheren (melekat) didunia subatomik. Heisenberg mengajukan suatu teori yang menjungkirbalikkan determinisme fisika klasik!
Ketidakpastian, yang semakin mengecil untuk benda-benda besar seperti kelereng atau molekul sekalipun, menunjukkan bahwa penyusun dari semua benda di alam bersifat takpasti. Meskipun dapat ditentukan akan tetapi tidak pernah dengan ketelitian 100%. Sebuah terobosan yang membuat geram para pendukung determinis. Bahkan Einstein pun berceloteh: "Tuhan tidak bermain dadu dengan alam!" Meskipun Einstein berulangkali menyerang teori ketidakpastian Heisenberg (yang didukung oleh Bohr), Bohr dan Heisenberg selalu dapat menangkis serangannya sehingga teori ini menjadi salah satu landasan fisika kuantum yang menghasilkan kemajuan luar biasa dibidang mikroteknik dan teknologi atom.
Jenius akhirnya melawan jenius. Mahaguru psikiatri kesal melihat perkembangan fisika yang 'semakin dekat dengan Tuhan'. Manusia memiliki keterbatasan dalam memastikan perilaku alam. Hanya Tuhan yang tahu dimana elektron sesungguhnya berada.
Oleh karena elektron adalah pembangun dari semua unsur di alam. Otak atau lebih tepatnya 'mesin biologis' Freud terdiri pula atas jutaan elektron yang taat pada teori Heisenberg. Manusia tidak bisa 'dirobotkan', manusia memiliki sistem yang sangat kompleks dan tidak dapat dipastikan tindakannya dimasa masa depan. Psikologi psikoanalisis kini berangsur-angsur redup dibawah psikologi kognitif. Psikologi yang berusaha membangun mental manusia yang arif melalui kesadaran penuh.
Akan tetapi, teori Heisenberg yang 'kontroversial' tetaplah sebuah teori. Suatu pernyataan yang dapat ditolak oleh teori yang lebih baik. Tetapi jenius itu akan tetap tersenyum dalam kuburnya. Tidak (belum?) ada yang bisa menggantikan teorinya yang melandasi mekanika kuantum, kebanggan fisika modern. Pemahaman struktur atomik, laser, black hole, superkonduktor hanya sedikit contoh dari penerapan prinsip indahnya. Richard Feynman, salah satu fisikawan terbaik yang pernah hidup membela prinsip ketidakpastian dengan mengatakan bahwa: 'Prinsip ketidakpastian adalah salah satu fondasi fisika kuantum. Jika runtuh, maka runtuhlah fisika kuantum!" Laplace, Einstein, dan juga Freud tidak dapat menghentikan senyumannya. Seperti kata Stephen W. Hawking: "Tuhan tidak hanya bermain dadu, tetapi melemparkannya ke tempat yang tidak kita ketahui."
*Hendradi Hardhienata (Jurusan Fisika IPB)
Hahaha lucu juga ya, apakah uncertainty heisenberg ini bisa di jadikan pembenaran atas kekuasaan tuhan ya, sesuai kepercayaan manusia2 yg malas berpikir bahwa kita gak boleh mempertanyakannya, jangan banyak nanya nanti tuhan bisa marah hehehe tapi apa salahnya toh, dan lagi kalo emang bener begitu berarti tuhan juga bermain2 dengan nasib kita ya, atau mungkin malah tuhan gak ngurusin takdir kita hahaha.......
dan kalo dipikir2 seperti kata einstein yg bilang kalo tuhan gak bermain dadu boleh dikatakan hidup kita ini emang determinisme, tapi kadang2 aku koq jadi bingung ya, sebetulnya sampe dimana sih peran takdir tuhan, sampai sejauh mana takdir tuhan turut campur dalam kehidupan kita, mungkin emang kalo dalam skala makro masih bisa di anggap wajar kalo tuhan menentukan takdir kita, tapi bagaimana dengan hal2 kecil yg terjadi setiap saat dalam kehidupan kita sehari2, apakah tuhan juga yg menakdirkan bahwa sedetik lagi dari sekarang aku menekan tuts keyboard "A" misalnya padahal aku bisa aja neken asal2 an, dan apakah tuhan juga yang menakdirkan aku untuk mengetik asal2an kemudian setelah itu"kmnkjyudayhfkufiuwag" tuh contohnya, dan apakah tuhan juga yg menakdirkan sedetik kemudian aku mesen nasi goreng di luar...ntar pesen nasi dulu.................wah tadi penjualnya ngasih garam kebanyakan, apakah itu juga takdir tuhan ya, bahkan ada seekor nyamuk yg mendarat tepat di jempol kakiku, kira2 2cm di atas permukaan tanah, dan aku berdiri di sebelah penjual mie yg berjarak paling2 beberapa kaki dari aku, apakah semua itu udah di atur tuhan ya, jarak dan posisi nyamuk dari benda2 sekitarnya, dan waktu presisinya ketika nyamuk itu menusukan sedotanya ke kulitku, apakah itu takdir tuhan ??? hahahahaha kalo aku nanya sama orang yg bertuhan pasti di jawab "itulah kebesaran tuhan" aku yakin itu hehehe, bayangkan berapa terrabyte memory yg tertanam dalam tubuh tuhan hingga mampu melakukan proses eksekusi sampai sebegitu rumit dan banyaknya, tapi jangan salah aku nggak ngomong kalo aku percaya takdir, soalnya aku masih berpikir dengan logika manusia, pikiran di atas juga hasil logika manusia dan penalaran kita, tapi kalo di pikir2 koq malah nggak bisa di nalar dan nggak masuk logika ya kalo tuhan sampai mengontrol hal2 kecil semacam itu setiap detik dalam hidup kita, sekarang di balikin lagi, bukankah itu juga logika manusia yang flaws juga kalo tuhan gak bakalan mengontrol setiap detik dalam kehidupan kita hahaha sama aja kaya lingkaran setan, ribet.
Sekarang coba kalo ada orang kecelakaan yg sekarat mo mati, trus di selamatin dokter, apa dokter itu menentang takdir tuhan? atau apakah tuhan menakdirkan dokter sebagai penyelamat, kalo kaya begini sih namanya kita sama aja boneka tuhan, atau mungkin juga kemampuan dokter melebihi kehendak tuhan ya, aku lebih suka yg terakhir ini hehehe
Nah yang jadi permasalahanya apakah kalo emang hidup ini penuh dengan ketidak pastian seperti kata heisenberg berarti bisa jadi apa yang kita lakukan hasilnya bisa beda jauh ama keinginan kita ya, belum tentu kalo kita kerja keras n pinter bisa kaya, dan belum tentu yg goblok jadi miskin, belum tentu juga kalo kita ngelempar dart ke papanya bisa jalan secara horizontal menuju papan sasaran, bisa saja khan waktu kita lempar tiba2 ada lampu jatuh trus nimpa jarum kecil tsb, atau mungkin ada peluru nyasar yg menghancurkan jarum tsb, hehehe kayanya koq maksa ya,....enggak koq, emang dalam skala mikroskopik gerakan elektron jelas2 gak bisa di prediksi momentum dan velocity nya, ini bisa terlihat jelas, dan dalam skala makroskopik semua kejadian sehari2 kita adalah nggak lebih dari kejadian statistik aja, nggak ada yg namanya kausalitas atau sebab akibatnya pak newton, hukum mekanika kuantum tetep berlaku dalam skala makro, karena bagaimanapun kalo kita mereduksi semua proses ini, yg kita dapatkan hanyalah gerakan2 elektron, atau kalo mau di reduksi lebih dalam lagi hidup ini gak lebih dari nyanyian kehidupan yang dihasilkan oleh filamen2 yg bervibrasi atau string theory, but who knows ya???? ngapain juga ya cape2 mikirin n ngurusin begituan hehehehe:)
