"What we need is not the will to believe but the will to find out."

April 23, 2004

Suck Media

Suck Media


Pagi itu sekitar pukul 9, sehabis pulang dari warnet aku langsung melepaskan kepenataku muter2 kota sby, hampir 3 bulan ini aku nda pernah keluar rumah, malem jadi vampir, tidur kalo siang ama pagi, ada sesuatu yang mengherankan aku, tidak biasanya perempatan lampu merah berbaik hati padaku memancarkan warna hijaunya, bahkan aku itung2 ada 9 buah dari daerah mulyosari sampai ngagel with green smile hehehe, hmm sesuatu yang jarang pikirku, apakah karena aku selama ini tidak pernah melajukan motorku di jalan protokol ini sehingga mereka berbaik hati memberikan prioritas padaku, mungkin ada benernya juga kalo teori kuantum mengatakan kalo apa yang terjadi di dunia ini bukan hukum sebab akibat melainkan hanyalah kejadian statistik, hehehe sungguh mengherankan pagi hari itu pembuktian dramatis dari teori yang dicetuskan sekitar 70 tahun yang lalu itu menimpa diriku sekarang, benar2 sebuah keberuntungan, meskipun aku menganalogikanya dengan hal2 bodoh macam ini hehehe.

Sekitar hampir satu jam berputar2 di jalan, aku menghentikan motorku di toko buku uranus, maksudnya sih cuman pengen ngeliat2 doank, setelah beberapa menit akhirnya aku ingat sama buku yang dulu sempet aku tunda membelinya," tao of psychic" karangan fritjof chapra terjemahan indonesia, betapa siyalnya aku ketika penjaga toko mengatakan buku itu habis...aku bertanya2 sebegitu larisnya buku tsb, padahal bayanganku buku macam gitu gak bakalan laku keras di pasaran, apalagi kalo mo ngelawan buku macam sex in the city, jakarta undercover, chicken soup, dll...mungkin ada peningkatan cara berpikir dan kualitas pada level konsumen pikirku, bukanya aku sinis sih sama buku2 macam gitu, tapi aku rasa sih bacaan kaya gitu udah umum dalam kehidupan kita sehari2, apa perlunya membaca buku kalo isinya udah kita alami dalam kehidupan kita sendiri, cuman buang2 duit aku rasa, toh dengan pinjem temen pun bisa, apalagi kalo bukunya di sampul mahal yg jelas2 kita yg nanggung biayanya, kalo buat aku sih biar kertas koran yg penting isinya, tapi yah.....apa salahnya bagi mereka, toh mereka juga punya duit sisa dan buku macam gitu bisa menghibur mereka jadi apa hak aku ya komentar kaya gini hehehe cuman pengen menyampaikan pendapat subjektif aja koq, soalnya kalo buku2 seperti itu mendapatkan animo yg besar dari masyarakat aku kuatir ntar pihak penerbitan merubah haluan mereka dari menerbitkan terjemahan text book2 luar dengan bacaan kaum konsumtif yang kurang merangsang logika berpikir masyarakat kita yang sedang sakit ini, memang mungkin orang2 seperti itu mungkin akan berpikir buat apa beli buku yg aneh2, nikmatin aja hidup ini gak usah mikir yang ribet2 toh hidup mereka juga udah enak hehehe kalo kaya gini kita mo ngomong apalagi, ya gak??? hehehe

Di lantai 2 aku melihat banyak buku2 yang terkesan radikal dan extrim, macam kritik2 thd modernisme, kapitalisme, konsumerisme, komunisme dan konco2 nya, sepintas aku membaca beberapa dari mereka, dan tidak jarang yang menghujat habis2an carut marut peradaban kita ini, peradaban yang membutakan kesadaran kita atas existensi kita, peradaban yang membius otak kita, begitu melimpahnya buku2 tsb meskipun tidak sebanding jika di bandingkan majalah2 dan tabloid yang mengupas gaya hidup dengan atribut2 yg cukup prestise, begitu juga dengan majalah2 abg, yang di halaman depan atau dalamnya banyak terselip kata2 seperti gaul, modis, funky, cool, etc yang emang kaya penampilan aku ini huehehehehe kiddin jek:)

Setelah beberapa kali membolak-balik buku2 yang ada termasuk dampak kapitalisme pada masyarakat terbuka, punyanya george soros kalo gak salah, dan juga buku2 lainya yg gak kalah mantap dengan mengusug kata2 macam revolusi, demokrasi, reformasi dan segala macam tetek bengeknya yang kedengaran keren juga dengan kata2 cool, funky, be sparkling, be u'r self hahaha...gw narik kesimpulan...apa sih sebenarnya sumbang asih yang di berikan buku2 ini pada bangsa kita ini, buku2 tsb banyak yg terbitan lama, bahkan tidak jarang nama2 besar seperti marx, hegel, freud, soros, popper dan lain sebagainya yang merupakan pemikir2 besar, dengan analisis kritisnya, dan dikenal dengan keangkeran bangunan pemikiranya di bahas dalam bermacam2 buku, termasuk buku terjemahan mereka, tetapi apa???..sekali lagi apa yang bisa diberikan buku2 itu pada kehidupan bangsa ini, sama sekali tidak ada mungkin, mungkin juga tidak untuk saat ini, dan mungkin juga tidak untuk selamanya, bangsa kita ini akan tetap sakit, kebusukan politisi dan ketidak adilan di negeri kita tetap merajalela, padahal aku yakin para cendikiawan intelek kita dan juga politisi cerdik kita tentunya tahu sejarah2 dan pemikir2 yang boleh di bilang membawa sedikit perubahan di negeri asalnya, jepang dan jerman, bahkan vietnam mampu memperbaiki kehidupan masyarakatnya, tapi indonesia???? masih jauh...
apa ya sebenarnya yang di berikan pendidikan bagi bangsa kita ini, apakah cuman menghasilkan masyarakat2 konsumtif yang di jadikan boneka oleh sesuatu yang namanya modernisasi, mengkonsumsi budaya2 barat yang di bilang oleh anak muda kita dengan sebutan gaul, atau mendirikan industri2 entertainment yg membius generasi muda kita, menyebarkan virus2 konsumtif dan gaya hidup baru yg bersifat kontemporer melalui berbagai macam media, benar2 sedemikian bahayanya media jika kita tidak bisa menyaringnya.
Bahkan kekerasan2 macam pembunuhan, perampokan, pemerkosaan dan konco2nya yang lain sudah menjadi komoditas utama media kita, acara2 seperti itu jelas2 mampu mendongkrak pemasukan mereka lewat iklan, menghidupi para karyawan termasuk wartawan2 mereka...hmmm sungguh ironis memang di lain pihak katakanlah ada korban pemerkosaan atau pembunuhan yang menimbulkan duka di keluarga mereka, tetapi hal itu justru menjadi ladang bisnis bagi media kita. emang sih mungkin dengan acara2 seperti itu kita bisa melihat realita kehidupan, dan mungkin bisa membuat kita lebih mawas diri, tetapi apakah sampai sebegitu parahnya sampai2 beberapa stasiun televisi menayangkan kasus yang sama, bahkan ada satu sesi khusus yang membahas satu kasus, aku terkadang tersenyum sendiri bagaimana mungkin seorang perampok katakanlah membawa sebilah pisau melukai korban atau mungkin membunuh bisa sampai menjadi lahan bisnis yang menghidupi karyawan2 stasiun tv tsb, aneh juga kalo dipikir2 pemicu dari semua itu cuman seseorang yg butuh duit dan sebilah pisau, how amazing...aku membawa pisau lipat kecil, menusuk dari belakang seorang nasabah bank dengan uang sekopernya, dan akhirnya berubah menjadi lahan duit bagi media, mungkin stasiun2 tv dan media2 lain tsb harus berterima kasih dengan sampah2 masyarakat ini.

Bayangkan juga setengah jam berdiri di toko buku begitu banyak yang aku dapatkan, pikiran bisa menjelajah gak karu2an meskipun rata2 buku tsb di sampul, dan hanya sedikit rangkuman2 yg terdapat di belakangnya, mungkin juga buku2 tsb berguna walaupun dalam proses pendistribusian dan penerbitan buku2 tsb mau tidak mau mereka masuk dalam sistem kapitalisme sedangkan di lain pihak isi dari buku2 tsb justru menyerang sistem2 kapitalis ini hehehe lucu juga kalo di pikir2, apalagi dengan hak cipta yang tercantum dalam buku2 tsb yang melarang pembajakan, bahkan kalo di novel supernova meminjam pun kita nggak boleh, sungguh teramat sadis, tapi yah..apa boleh buat lho wong emang yang nulis juga butuh duit koq, mungkin juga modernisasi juga membantu kita memahami gejala2 sosial ini, sungguh benar2 pisau bermata dua

Akhirnya aku juga dipaksa untuk membeli buku lagi, untuk sesuatu yang aku gak bakalan bisa ngerubah dan menerapkanya pada masyarakat yg udah mapan secara finansial ini, cuman aku sendiri dan teman seperjuangan yang menikmati buku2 gak jelas ini (plus sambutan kecut dari temen2 aku yg menganggap diri mereka gaul n funky hehehe bahkan temen deket aku sendiri banyak yg jadi korban)...hmmm padahal kalo dipikir gajian aku juga udah nipis, kalo udah gini apa bedanya aku ya sama abg2 yang pengen beli sepasang sepatu adidas, dengan kaos spyderbilt plus celana 3/4 bilabong di counter surf world yang ngemis ama ortunya.....ahhh hidup ini memang aneh dan mungkin ada benernya kalo temen2 kaskus banyak yang bilang kalo hidup ini cuman pilihan, yah mungkin bedanya mereka bisa lebih di terima di masyarakat muda yang gaul2 ini, kalo gak gitu mereka gak bisa menunjukan ke exist"an mereka dunx hihihihi lucu.
aku jadi inget ungkapan naif yang sering aku baca di belakang kaca mobil bertuliskan i didn't have ferrari but i have my own library, konyol juga sih menurut aku, kalo aku sih lebih baik punya ferrarinya trus di tukerin z4 sisanya buat bikin perpus sendiri wahahaha konsumtif juga ya ternyata hehehe