Impian Peradaban
Impian Peradaban
Malam ini pikiran itu mulai muncul lagi, pikiran2 penting gak penting yang terkadang sering hinggap di kepalaku, apa ya yang selama ini aku dapatkan dari hidup, aku sendiri bingun, apa juga ya yang sebenarnya ingin aku capai?? apakah cita2 masa kecilku yang dulu sering melihat bintang berjam2 dan berharap kelak aku bisa terbang ke sana dengan mudahnya dan balik lagi ke bumi yang mungil ini, atau juga menjadi dokter bedah yang bisa mencabik2 tubuh manusia seenaknya hehehe, tapi emang itu adalah impian masa kecilku, diriku yg masih imut dan lucu:) tapi baru kini aku sadari sekarang kalau mimpi2 dan cita2 itu tidak murni datang dari dalam jiwa2 pemberontakku yang meronta dalam dominasi peradaban ini...oh shit aku paling benci kalo harus mengatakan jiwa, aku masih gak bisa dengan gampang melepaskan konsep reduksionisme sains yg menelanjangi jiwa2 ini sampai level atomis, karena pada kenyataanya "tubuh ini masih di jadikan koloni2 sel2 keparatku" bahkan semua cita2 dan keinginan itu mungkin hanya ilusi atau mungkin juga sekumpulan inputan kode eksternal dari sejarah evolusi dan peradaban manusia yang di proses oleh sel2 otak yang masih belum di kompile, dan belum bisa mewujudkanya dalam suatu aplikasi atau program, masih stuck di dalam memory otak aku atau bahasa awamnya cita2 itu masih belum tercapai??? hehehe ribet amat ya perumpamaanya, namanya juga penting gak penting, emang sih mempunyai cita2 bukanlah hal yang salah, mungkin orang goblok dan pemalas aja yang gak punya cita2, tapi kalo di pikir2 koq keliatanya aneh juga ya...ini kalo di pikir2 lho, pikir kuadrat maksudnya kalo cuman pikir aja mungkin gak ada yang salah, semakin kita sadar akan sesuatu maka mungkin akan semakin banyak kontradiksi2 di dalamnya, gampanganya kalo nda ada kontradiksi berarti itu nga mikir (itu menurut pandangan subjektifku)...ya nggak hehehe atau ada lagi yang bilang dengan berpikir bisa menghilangkan kontradiksi...walah apa pula ini, bahkan mungkin dari sintesis masih ada anti sintesis juga..eh ada nggak sih antisintesis hehehe tauch ah bingung gw hahahaha
Baru sekarang ini aku sadar kalo semua mimpi dan cita2 masa kecil aku itu ternyata toh pada dasarnya juga di bentuk oleh suatu sistem sosial di sekitar aku juga, keluarga, teman masa kecil, buku2 yg aku baca, acara tv yang aku suka juga, hoby masa kecilku juga yang suka ngeliat bintang, bahkan ibuku dulu pernah bilang kalo di bulan itu terang karena permukaanya kaca hehehe benar2 sesat, nga tau lagi kalo dia cuman becanda, kita semua mungkin punya cita2 atau keinginan, tapi koq umumnya kita pengen menjadi apa yang sudah ada dan establish ya, yang menjanjikan keamanan secara finansial, apalagi di indo ya, kita memproduksi cita2 dan keinginan2 dari inputan2 eksternal dari diri kita, dengan kata lain mungkin media2 massa tersebut berhasil menginjeksikan kebutuhan2 semu kita pada kesadaran kita, kita tau kalo jadi artis bisa tenar maka pengen...jadi tentara keliatan keren maka pengen, jadi model karena model banyak yg cakep n tajir maka pengen, jadi pilot supaya bisa terbang maka pengen...emang sih gak menutup kemungkinan kalo mungkin kita juga melakukan pertimbangan2 finansial seperti keuntungan yg di janjikan oleh pekerjaan kita dan juga faktor sosial dalam peradaban zaman sekarang, tapi toh tetep aja pertimbangan2 itu juga inputan external dari diri kita, kadang2 aku jadi bingung sebenarnya itu kita yang membentuk peradaban ataukah peradaban yang membentuk kita sih. kalo emang bener peradaban yang membentuk diri kita siapa ya kita ini, aku kadang2 bener2 bingung, apakah aku harus punya cita2?, apakah aku harus sukses? apakah aku harus punya pekerjaan yang layak n aman secara finansial? apakah memang masyarakat atau pasar hanya melihat kemampuan kita menjual diri kita, kualitas2 kita, talent kita, kalo yang ini aku rasa udah jelas, secara tidak disadari kita emang telah menjual diri kita pada suatu sistem, bahkan peradaban dengan feed back kepuasan materi bahkan batin juga, karena mungkin pekerjaan2 kreatif bisa dijadikan mereka sebagai ruang sosialisasi idealisme mereka, tapi toh idealisme mereka juga di bentuk sistem dan peradaban yg mempengaruhi mereka, dan tentunya aku juga, dan kalo di lihat dari kacamata mereka emang orang bakal nganggep aku sampah huehehe bahkan idealisme sampahku yang tidak bisa menghasilkan apa2 jauh dari level aman secara finansial,kecuali hanya orgasme pemikiran, itu juga untung2an sih kalo sampai orgasme kalo nanyaiin tuhan mah gak ada orgasmenya, pokoknya mikir penting gak penting n jelas gak jelas deh makna nga makna juga, namanya juga kurang kerjaan wahahahahaha....tapi ya emang sih hidup ini harus di beri makna dan dinikmati, agar kita gak terjebak dalam kejenuhan yg absurdis, dan salah satu cara mengatasi absurditas adalah dengan memberikan perhatian habis2an pada apa yg ada di sekitar kita, meskipun gak menutup kemungkinan pada akhirnya juga mungkin kita juga ngerasa hidup ini memang absurd dengan mengetahui segala sesuatu..so what gitu loh, kita hanya bisa menikmati existensi sesaat kita, yah boleh dibilang existensi sesaat lah menurut gw
Moga2 aja deh aku nulis kaya ginian ngga aku jadikan pembenaran diri atas kondisi subjektifku seperti sekarang ini dan gagalnya tercapainya cita2ku sebagai orang pertama yg menginjakan kaki di TITAN satelitnya saturnus tapi malah menjadi seorang gembel whuakakakaka

0 Comments:
Post a Comment
<< Home