Opera Kehidupan
Semua daging adalah rumput, kita lahir, tumbuh sebentar, kemudian dan seterusnya, seperti rumput di tengah teriknya matahari musim panas yg membakar, kita kering dan mati,trus tujuanya apa?, apakah hidup kita tidak lebih berarti daripada rumput?, begitu pendeknya hidup ini.
Masih teringat buku live after death, ada saatnya dimana hidup mulai kehilangan landasanya, tapi landasan hidup seperti apa gw sendiri sejujurnya juga nggak tahu, ternyata ungkapan dunia adalah panggung sandiwara itu ada benernya juga, kalo gw ngeliat para remaja2 seperti gw yg kepalanya dihinggapi oleh bermacam2 pikiran2 dan pertanyaan2 aneh nggak karuan yg gak jelas juntrunganya itu mungkin adalah suatu proses yg mengilhami naskah kehidupan gw dan merupakan skenario berbelit2 yg mengilhami diri kita untuk membuat suatu pertunjukan teater kolosal di tengah2 keabsurdan makna hidup di dunia ini, mungkin juga kita emang harus mempersiapkan sendiri panggung sandiwara buat pertunjukan drama yg akan kita mainkan, mulai mendekor panggung sampai menentukan karakter apa saja yg bakalan kita mainkan, keadaan seperti apa yg harus kita hadapi and so on, kita adalah sutradara atas hidup kita, saat2 seperti inilah waktunya buat kita untuk bereksperimen, bermain dengan mainan kehidupan, yaitu uang, kenikmatan, kekuasaan, harta benda, prestise, bahkan ama yg namanya cinta, (hehehe kayanya gw masih belum bisa ngilangin sifat ke Guesentrisan dalam diri gw) tapi gw gak tau apakah suatu bentuk idealisme juga merupakan suatu barang mainan apa nggak di sini, kalo menurut gw sih semuanya itu gak ubahnya kaya maenan anak kecil.
banyak pertanyaan2 klise yg di pertanyakan dalam buku ini seperti apa kira2 live after death, kenapa kita hidup? buat apa?, apa tujuan kita?, pertanyaan2 kaya gitu udah bukan barang langka lagi untuk dipertanyakan, tapi tetep aja gak ada jawaban yg memuaskan.
kalo masa remaja di identikan dengan proses pencarian jati diri bahkan gak jarang yg kebablasan sampe keasyikan mencari jatidirinya maka sesudah masa2 berakhir itu seharusnya kita bisa menoleh dan melihat ke dalam diri kita, melihat diri kita berada dimana dan kemana kita akan melangkah, terus terang aja ini bukan hal gampang buat gw hehehe....
emang sih ada banyak juga orang yg nggak melewati fase macam ginian, maksud gw gak semua orang mau bersusah payah mempertanyakan arti hidup, menyadari eksistensinya dan pikiran2 lain yg mempertanyakan eksistensi mereka, buat apa gitu lho hahaha...., kalo kita mau jujur sebenernya nggak ada sesuatupun dalam zaman modern ini yg mendorong kita untuk melihat lebih jauh, hidup kita dipenuhin ama mainan2 nggak jelas, life style, prestise, konsumerisme dan tetekbengek lainya semakin membutakan ABG2 kita, susah sekali bagi mereka untuk ngebuang mainan2 ini, semoga aja semua ini cuman proses, mungkin kelak mereka, termasuk juga gw bisa menemukan posisi kita sebagai manusia, terkadang kalo gw baca biografi para penemu dan ilmuwan2, kebanyakan mereka mencapai masa kejayaanya dan menemukan sesuatu yg berarti di usia rata2 1/4 abad, well semoga aja hidup ini nggak sia2
"You've got to think about 'big things' while you're doing small
things, so that all the small things go in the right direction."
(Alvin Toffler)
Masih teringat buku live after death, ada saatnya dimana hidup mulai kehilangan landasanya, tapi landasan hidup seperti apa gw sendiri sejujurnya juga nggak tahu, ternyata ungkapan dunia adalah panggung sandiwara itu ada benernya juga, kalo gw ngeliat para remaja2 seperti gw yg kepalanya dihinggapi oleh bermacam2 pikiran2 dan pertanyaan2 aneh nggak karuan yg gak jelas juntrunganya itu mungkin adalah suatu proses yg mengilhami naskah kehidupan gw dan merupakan skenario berbelit2 yg mengilhami diri kita untuk membuat suatu pertunjukan teater kolosal di tengah2 keabsurdan makna hidup di dunia ini, mungkin juga kita emang harus mempersiapkan sendiri panggung sandiwara buat pertunjukan drama yg akan kita mainkan, mulai mendekor panggung sampai menentukan karakter apa saja yg bakalan kita mainkan, keadaan seperti apa yg harus kita hadapi and so on, kita adalah sutradara atas hidup kita, saat2 seperti inilah waktunya buat kita untuk bereksperimen, bermain dengan mainan kehidupan, yaitu uang, kenikmatan, kekuasaan, harta benda, prestise, bahkan ama yg namanya cinta, (hehehe kayanya gw masih belum bisa ngilangin sifat ke Guesentrisan dalam diri gw) tapi gw gak tau apakah suatu bentuk idealisme juga merupakan suatu barang mainan apa nggak di sini, kalo menurut gw sih semuanya itu gak ubahnya kaya maenan anak kecil.
banyak pertanyaan2 klise yg di pertanyakan dalam buku ini seperti apa kira2 live after death, kenapa kita hidup? buat apa?, apa tujuan kita?, pertanyaan2 kaya gitu udah bukan barang langka lagi untuk dipertanyakan, tapi tetep aja gak ada jawaban yg memuaskan.
kalo masa remaja di identikan dengan proses pencarian jati diri bahkan gak jarang yg kebablasan sampe keasyikan mencari jatidirinya maka sesudah masa2 berakhir itu seharusnya kita bisa menoleh dan melihat ke dalam diri kita, melihat diri kita berada dimana dan kemana kita akan melangkah, terus terang aja ini bukan hal gampang buat gw hehehe....
emang sih ada banyak juga orang yg nggak melewati fase macam ginian, maksud gw gak semua orang mau bersusah payah mempertanyakan arti hidup, menyadari eksistensinya dan pikiran2 lain yg mempertanyakan eksistensi mereka, buat apa gitu lho hahaha...., kalo kita mau jujur sebenernya nggak ada sesuatupun dalam zaman modern ini yg mendorong kita untuk melihat lebih jauh, hidup kita dipenuhin ama mainan2 nggak jelas, life style, prestise, konsumerisme dan tetekbengek lainya semakin membutakan ABG2 kita, susah sekali bagi mereka untuk ngebuang mainan2 ini, semoga aja semua ini cuman proses, mungkin kelak mereka, termasuk juga gw bisa menemukan posisi kita sebagai manusia, terkadang kalo gw baca biografi para penemu dan ilmuwan2, kebanyakan mereka mencapai masa kejayaanya dan menemukan sesuatu yg berarti di usia rata2 1/4 abad, well semoga aja hidup ini nggak sia2
"You've got to think about 'big things' while you're doing small
things, so that all the small things go in the right direction."
(Alvin Toffler)

0 Comments:
Post a Comment
<< Home