"What we need is not the will to believe but the will to find out."

June 25, 2005

We Are The Children Of Star

Saya punya seorang teman, dia adalah seorang seniman, dan kadangkala memiliki pandangan yang saya tidak setuju. Dia pegang setangkai bunga dan berkata “Lihat, betapa indahnya bunga ini”, dan saya setuju. Tapi kemudian dia akan berkata “Saya, sebagai seorang seniman, dapat melihat betapa indahnya setangkai bunga. Tapi kamu, sebagai seorang ilmuwan, menjadikannya terpisah-pisah dan itu membuatnya garing”. Saya pikir dia ini ^_^.

Pertama dan utama sekali, keindahan yang dia lihat adalah bisa dilihat oleh semua orang – dan saya juga, saya percaya itu. Walaupun saya mungkin tidak bisa merasakan bagusnya secara estetika seperti yang dia rasakan, saya dapat menghargai keindahan setangkai bunga itu. Tapi, di sisi lain, saya melihat lebih banyak hal pada bunga daripada dia. Saya dapat membayangkan sel-sel di dalam bunga, dimana juga memiliki keindahan tersendiri. Ada keindahan yang tidak hanya pada dimensi sentimeter; tapi keindahan itu juga ada pada skala yang lebih kecil.

Terdapat banyak aksi-aksi yang komplit di dalam sel tersebut, dan proses-proses lainnya. Fakta bahwa warna-wana dalam bunga sudah berkembang dalam rangka menarik serangga untuk datang dan membantu penyerbukan adalah sangat menarik; yang artinya serangga juga melihat warna-warna pada bunga tersebut. Ini menambah pertanyaan: apakah rasa estetika yang kita punya juga ada pada kehidupan bentuk rendah (dimensi skala yang kecil)? Ada beberapa jenis pertanyaan menarik lainnya yang datang dari ilmu pengetahuan, yang hanya menambah keasikan dan misteri serta kekaguman pada setangkai bunga tadi. Itu hanya menambahkan keindahan. Saya tidak mengerti bagaimana


Tulisan di atas adalah sedikit penggalan yg saya ambil dari terjemahan bukunya richard feynman dari febdian.net,
beberapa hari yg lalu ada seseorang yg menanyakan hal yg hampir serupa di sebuah forum, dia bertanya, sebenarnya apa sih yg menarik dari Astronomi?, apa enaknya sih mengamati dan menghitung jumlah bintang di langit?? well bagi saya sih mungkin gak ada hal yg gak menarik di astronomi, saya masih ingat ketika saya masih duduk di bangku SD setiap hari saya membaca buku kakak perempuan saya yg sudah duduk di bangku smu, saya membaca semua buku2nya yg berhubungan dengan planet2 dan bintang serta bagaimana reaksi termonuklir yg berlangsung di dalam sebuah bintang mengingat hal2 seperti itu gak bakalan ada di buku kelas 3 SD, bahkan ayah saya sempat kaget dan mengira saya yg bodoh ini memiliki bakat khusus hehehe.
tapi sayang otak saya nggak cukup cerdas untuk menjadi seorang fisikawan atau astronom, yg hanya bisa saya lakukan adalah memandangi bintang2 di langit dengan rasa takjub yg luar biasa, dulu saya ingat pernah bertanya kepada nenek saya sewaktu masih berumur kira2 5/6 tahun, kenapa sih bulan itu bersinar?, tapi nenek saya yg orang jawa biasa dan tidak tau banyak tentang astronomi itu hanya berkata kalo bulan yg bersinar itu sebenarnya bentuknya seperti bola kristal atau kaca yg bisa bersinar, jawaban yg cukup membuat orang tersenyum saya kira, setelah itu saya bertanya kenapa bulan bisa menggantung disana? kenapa gak jatuh ke bumi? kenapa..kenapa..dst, hingga jawaban akhir yg saya dapatkan adalah Tuhan, dia bilang yg mengatur semua ini adalah Gusti Pangeran, dan akhirnya saya hanya bilang ohhhhhh...kemudian berhenti menanyakan kepada nenek saya meskipun masih belum puas dengan penjelasanya tentang Tuhan. tapi bagaimanapun saya tetap menghargai kesedian seorang nenek yg mencoba menjawab pertanyaan seorang cucu yg memang suka ngeyel dan banyak bertanya ini.

Bagi saya pribadi menanggapi pertanyaan seperti apa sih enaknya mempelajari astronomi?, apa asyiknya sih memperhatikan bintang di langit mungkin jawabanya bisa puluhan halaman, sayang saya tidak dapat merangkumnya menjadi sebuah buku seperti yg dilakukan Carl Sagan dalam bukunya yg berjudul COSMOS, bagi saya memang tidak ada yg bisa lebih menyenangkan lagi bagi saya selain memandang dan menikmati bintang di malam hari, bagi saya itu sesuatu yg pling menyenangkan, bayangkan nun jauh di sebrang galaksi bimasakti kita ada sebuah mahluk yg juga memandangi langit2 malam dari planetnya, galaksinya, sama seperti kita, mereka memandangi matahari kita dari kejauhan, melihat masa lalu kita seperti kita melihat masa lalu mereka. mungkin juga mereka akan iri dengan planet kita ketika melihat dengan alat mereka betapa indahnya bumi kita dan perkasanya matahari kita.

Saya jadi teringat ketika dulu masih kecil nonton film lion king, udah pda tau khan? ada adegan dimana simba, pumba dan timon melihat bintang2 di malam hari dari gurun afrika, si simba bilang dulu ayahnya pernah berkata kalo bintang2 di langit itu adalah arwah kakek neneknya yg telah mati menjadi bintang2 di langit yg selalu mengawasi anak cucunya dari atas, jadi nanti kalo simba, timon dan pumba mati pada akhirnya juga bakalan menjadi bintang2 dilangit yg bakalan di lihat oleh anak cucunya, setelah saya menginjak bangku smp saya senang sekali membaca buku2 astronomi, dan berkenalan sedikit dengan fisika partikel walaupun tidak sampai mendalami, ada seorang ilmuwan yg berkata kalau kita ini sebenarnya adalah anak2 bintang, "WE ARE THE CHILDREN OF STAR",setelah saya pikir2 ada benernya juga kalo kita merunut asal-usul bumi dan tata surya kita ini secara sains bisa jadi seperti itu, saya sadar kalo setiap proton, netron, dan elektron dalam tubuh kita ini bisa jadi dulu pernah dimasak di sebuah tungku panas sebuah bintang bernama matahari yg akhirnya terlempar bersama pembentukan planet bumi, kita ini memang anak2 bintang, bisa jadi nanti kalo bumi ini hancur sebagian materi yg menyusun tubuh rentan kita ini bakalan membentuk bintang baru dan planet2nya, bahkan bisa jadi sebagian materi yg menyusun tubuh kita ini kelak jutaan tahun yg akan datang akan menyinari dan menghidupi sebuah planet mungil lagi, kita adalah bintang dan bintang adalah kita, melihat bintang di malam hari terkadang saya bertanya-tanya, kapan ya kira materi2 di sebuah bintang itu kelak akan membentuk manusia yg bertanya seperti kita ini?, apakah disana juga ada ya saudara kita yg berpikir seperti ini sambil memandangi matahari kita dari kejauhan? miliaran tahun mungkin yg dibutuhkan sebutir proton untuk melakukan perjalanan kosmis sampai akhirnya dia bergabung dengan materi2 di jagad raya ini untuk membentuk sebuah otak kerdil dengan berjuta2 pertanyaan..hmmm sungguh menakjubkan bahwa materi2 yg menyusun tubuh kita ini akhirnya mempertanyakan asal-usulnya sendiri.

Jangan hanya menghitung jumlah bintang dilangit, hitunglah berapa kira2 ruang dan waktu yg dilalui cahaya dari bintang itu, cahaya2 itu menyaksikan sejarah alam semesta, menyaksikan hidup dan mati bintang2 yg lain dalam perjalananya, mereka adalah pembawa pesan dari wilayah lain di jagat raya ini, mereka mencoba berbicara kepada kita, memberitahu asal usul debu kosmis yg kebetulan membentuk tubuh kita ini, dan menyadarkan kita kalo kita semua ini adalah sama.

Sebetulnya memandang bintang di langit itu menyenangkan kalau kita bisa melihat lebih dalam, bayangkan betapa sibuknya dapur sebuah bintang itu yg sibuk dengan hidrogen2nya yg mencoba membentuk helium, semakin dalam kita melihat kita akan menjumpai pertanyaan2 alam semesta ini yg penuh misteri dan mengasyikan, semua itu akan membuat kita takjub, kagum dan terpesona dengan kunang2 yg mengantung di langit itu,jadi semua itu tergantung sejauh mana kita bisa melihat.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home